Catatan Jelang Piala Menpora: Bermimpi Sepakbola Kita Bersatu...

Sabtu, 17 April 2021 12:42 WIB

Share
Catatan Jelang Piala Menpora: Bermimpi Sepakbola Kita Bersatu...

RIBUAN keluarga pemain dan perangkat pertandingan, akhirnya akan segera kembali sedikit tersenyum. Jutaan suporter, meski harus menyaksikan dan telah sama-sama bertekad, nonton di rumah saja, juga akan segera kembali bergairah. Dan ratusan pengusaha mechendise rumahan, juga sama gembiranya karena ekonomi mereka kembali hidup.

Itulah situasi yang saat ini ada dalam orbit sepakbola nasional menjelang diputarnya turnamen Pra-Musim, Piala Menpora. Suka atau tidak, penggemar sepakbola di Indonesia, konon jumlahnya lebih dari 20 negara Eropa. Itu sebabnya juga, FIFA dan UEFA sangat berkepentingan, ini pandangan pribadi saya, pada Indonesia. Dengan jumlah lebih dari 100 juta, sekali lagi ini pendapat pribadi saya, rating program FIFA dan UEFA tetap terjaga. Tanpa penonton dari Indonesia, maka jumlah penonton akan berkurang. Artinya, sangat mungkin income mereka juga akan berkurang, wallahu a'lam.

Benar masih ada pandemi, tapi insyaa Allah Piala Menpora tidak akan jadi klaster baru. Begini, syarat yang ditegaskan pihak Polri dan Satgas Covid-19, sangat ketat. Pertandingan hanya boleh melibatkan 200-an orang saja, itu pun setiap orang harus membawa surat negative test-antigen yang umur suratnya tidak sampai 24 jam. Artinya keadaan masing-masing orang benar-benar terjaga.

Bayangkan, stadion-stadion yang berkapasitas 10-20 ribu bahkan ada yang mencapai 40 ribu, akan terlihat sangat lengang. Catatan: saya termasuk dari sedikit sisa wartawan yang pernah meliput laga sepakbola Indonesia dengan penonton sangat lengang, 1987an, meski tidak ada larangan apa pun saat itu. Artinya, laga tanpa penonton bukan hal aneh. Saya juga pernah delapan tahun menjadi anggita komisi disiplin PSSI serta Komisi Banding PSSI di era Nurdin Khalid hingga La Nyalla, sering menghukum klub bertanding tanpa penonton. Semua bisa terlaksana. Jadi, insyaa Allah aman.

Tidak hanya itu, Polri dan Satgas Covid pun melarang adanya nonton bareng di cafe, di rumah, atau di mana pun. Yang dimaksud nonton bareng adalah menyaksikan pertandingan dengan jumlah lebih dari 10 atau 20 orang. Malah perpindahan suporter, konvoi, pawai, atau arak-arakan menggunakan atribut klub dari satu tempat ke tempat lain. Jika semua itu, insyaa Allah para suporter-mania sudah bertekad pula untuk tidak melakukannya, terlaksana, maka kekhawatiran tentang klaster baru, tidak terjadi.

Bayangkan, kegiatan di airport, lalu perjalanan dengan pesawat. Stasiun kereta api, perjalanan menggunakan KA untuk jarak dekat, sedang, dan jauh. Pasar-pasar tradisional dan pasar modern (mal), kantor-kantor. Ribuan orang berada di satu tempat, di waktu yang bersamaan, tetap saja bisa berjalan dan harus berjalan lantaran kehidupan juga harus terus berjalan.

Untuk itu, saya ingin sekali kita semua bersatu, sekali ini saja. Kita melihat sepakbola tidak hanya sekedar pertandingan sepakbola saja. Saya ingin kita melihat Piala Menpora ini sebagai alat penggerak kebersamaan. Kita lihat sepakbola sebagai wadah berkehidupan.

Tentu tidak semua orang punya sisi pandang yang sama, silahkan saja. Tapi, bahwa ada pihak yang membutuhkan sepakbola untuk melanjutkan kehidupan, itu adalah fakta tak terbantahkan. Sekali lagi, ada pihak yang tidak setuju, boleh-boleh saja. Tapi, tolong pahami, bahwa di dalam pandemi ini kita harus terus mampu bertahan. Salah satu cara bertahan adalah mampu melawan virus covid-19. Untuk melawan virus, kita harus menjaga imun.  Imun akan terjaga jika hati dan pikiran kita terjaga pula. Nah, dengan sepakbola, insyaa Allah semuanya terjaga.

Semoga dengan bergulirnya turnamen Pra-Musim Piala Menpora, PSSI, seluruh pemilik klub, pelatih, ofisial, pemain, perangkat pertandingan, suporter, dan kita para jurnalis, bisa saling berjaga. Saling mengingatkan dan bukan saling menikam. Di saat seperti ini, saatnya kita terpanggil untuk membangkitkan mimpi sepakbola Indonesia bersatu.

Ketika banyak sektor diragukan kebersatuannya, maka sepakbolalah yang bisa mempersatukan kita...

Halaman
Reporter: Admin Sulsel
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar